
Oleh : dr. Wilujeng Anggraini, SpPD
Pembimbing : dr. Achmad Rifa’I, SpPD-KGH
Penyakit Ginjal Kronis (PGK / Chronic Kidney Disease – CKD) adalah salah satu masalah kesehatan yang semakin meningkat di seluruh dunia. Penyakit ini terjadi ketika ginjal mengalami kerusakan dan kehilangan fungsi penyaringannya secara bertahap dalam waktu lama, biasanya lebih dari 3 bulan. Fungsi utama ginjal adalah menyaring darah, mengatur keseimbangan cairan, membuang zat sisa metabolisme, serta menghasilkan hormon penting. Bila fungsi ini terganggu, maka dampaknya meluas ke seluruh tubuh.
Masalah utama dari PGK adalah sifatnya yang diam-diam atau silent disease. Pada tahap awal, penderita biasanya tidak merasakan gejala apa pun. Tanda-tanda baru muncul ketika kerusakan sudah cukup parah, misalnya berupa pembengkakan, tekanan darah tinggi, atau mudah lelah. Karena itulah, deteksi dini menjadi sangat penting agar penyakit dapat ditemukan sebelum berkembang ke tahap berat. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang untuk memperlambat perjalanan penyakit dan mencegah komplikasi
Cara Kerja Ginjal dan Dampak Kerusakan
Ginjal bekerja setiap detik menyaring darah. Setiap harinya, ginjal menyaring sekitar 180 liter darah untuk membuang racun dan cairan berlebih. Selain itu, ginjal juga berperan dalam mengatur tekanan darah, memproduksi hormon untuk merangsang pembentukan sel darah merah, serta menjaga kesehatan tulang dengan mengatur metabolisme vitamin D dan kalsium.
Bila ginjal mengalami kerusakan, maka racun dan cairan akan menumpuk dalam tubuh. Hal ini bisa menimbulkan berbagai masalah, mulai dari keluhan ringan hingga kondisi yang mengancam jiwa.
- Penumpukan racun menyebabkan mual, muntah, gatal, dan rasa tidak enak badan.
- Cairan berlebih menimbulkan bengkak pada kaki, wajah, atau tangan.
- Tekanan darah meningkat karena ginjal tidak mampu mengatur keseimbangan cairan dan hormon.
- Anemia terjadi karena ginjal gagal memproduksi hormon eritropoietin yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah.
- Tulang menjadi rapuh akibat gangguan metabolisme kalsium dan vitamin D.
- Pada akhirnya, bila kerusakan berlanjut tanpa terdeteksi, pasien bisa mengalami gagal ginjal stadium akhir yang memerlukan dialisis atau transplantasi
Faktor Risiko Kelainan Ginjal
Tidak semua orang memiliki peluang yang sama untuk mengalami penyakit ginjal. Ada kelompok tertentu yang lebih berisiko dan harus lebih waspada. Mengetahui faktor risiko ini penting agar seseorang dapat mengambil langkah pencegahan lebih awal.
Faktor risiko utama adalah:
- Diabetes melitus
- Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang merusak pembuluh darah kecil di ginjal, sehingga ginjal tidak mampu menyaring darah dengan baik.
- Hipertensi (tekanan darah tinggi)
- Tekanan berlebih dalam pembuluh darah menyebabkan kerusakan pada struktur penyaring ginjal.
- Usia di atas 60 tahun
- Seiring bertambahnya usia, fungsi ginjal akan menurun secara alami sekitar 1% per tahun setelah usia 40.
- Riwayat keluarga
- Bila ada anggota keluarga yang menderita penyakit ginjal, risikonya lebih tinggi.
- Obesitas dan merokok
- Keduanya mempercepat kerusakan pembuluh darah termasuk di ginjal.
- Penyakit lain
- Seperti penyakit jantung, riwayat batu ginjal, dan penyakit autoimun (contohnya lupus).
Dengan mengetahui faktor-faktor ini, seseorang dapat melakukan pemeriksaan rutin lebih dini. Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin penting deteksi dini dilakukan
Cara Deteksi Dini
Deteksi dini penyakit ginjal dapat dilakukan dengan pemeriksaan sederhana yang tersedia di fasilitas kesehatan dasar. Tes ini mudah dilakukan dan tidak membutuhkan teknologi rumit.
- Tes darah (eGFR)
- Pemeriksaan ini mengukur seberapa baik ginjal menyaring darah melalui nilai estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR). Nilai normal adalah ≥90 mL/menit/1,73 m². Bila nilainya <60 yang bertahan lebih dari 3 bulan, kemungkinan besar pasien mengalami PGK.
- Tes urin
- Kehadiran protein (albuminuria) dalam urin adalah tanda awal kerusakan ginjal. Pemeriksaan urin bisa dilakukan dengan dipstick sederhana atau uji laboratorium yang lebih akurat.
- Pengukuran tekanan darah.
- Hipertensi dan kerusakan ginjal saling memengaruhi. Tekanan darah tinggi bisa menjadi penyebab maupun akibat PGK.
- Tes tambahan.
- Dalam kondisi tertentu, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan lain seperti USG ginjal untuk menilai ukuran dan bentuk ginjal. Saat ini, penelitian juga sedang mengembangkan biomarker baru dan teknologi canggih seperti analisis ekzosom urin dan Raman spectroscopy, yang berpotensi mendeteksi kerusakan ginjal lebih awal
Pemeriksaan-pemeriksaan ini tidak hanya penting untuk menemukan PGK pada tahap awal, tetapi juga untuk memantau perkembangan penyakit dari waktu ke waktu.
Kelebihan Deteksi Dini Kelainan Ginjal
Deteksi dini membawa banyak keuntungan, baik bagi pasien maupun sistem kesehatan secara keseluruhan. Dengan mengetahui adanya masalah lebih awal, dokter dapat memberikan terapi yang sesuai untuk memperlambat kerusakan ginjal.
Manfaat yang didapat antara lain:
- Mencegah gagal ginjal stadium akhir, sehingga pasien tidak harus segera menjalani dialisis atau transplantasi.
- Mengurangi komplikasi kardiovaskular, karena pasien PGK memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung dan stroke.
- Menghemat biaya kesehatan, karena perawatan dini jauh lebih murah dibandingkan biaya dialisis jangka panjang.
- Menjaga kualitas hidup pasien, karena mereka tetap bisa beraktivitas normal, bekerja, atau menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik
Deteksi dini tidak hanya menyelamatkan ginjal, tetapi juga melindungi kesehatan jantung, pembuluh darah, dan seluruh tubuh.
Kekurangan dan Tantangan Deteksi Dini Kelainan Ginjal
Walaupun deteksi dini sangat bermanfaat, kenyataannya penerapannya masih menghadapi banyak kendala. Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya kesadaran masyarakat. Banyak orang merasa sehat, sehingga enggan melakukan pemeriksaan.
Selain itu, gejala PGK sering samar atau bahkan tidak ada. Akibatnya, penyakit ini sering terlambat dikenali. Di daerah tertentu, akses terhadap pemeriksaan laboratorium masih terbatas. Tidak semua masyarakat mampu atau terbiasa melakukan tes darah dan urin secara rutin.
Pada kelompok usia lanjut, kadang terjadi overdiagnosis, di mana penurunan fungsi ginjal dianggap penyakit padahal sebagian adalah proses alami penuaan. Hal ini dapat membingungkan baik pasien maupun tenaga medis
Strategi Deteksi
Secara umum ada dua strategi dalam mendeteksi penyakit ginjal pada populasi. Pertama adalah skrining massal, yaitu pemeriksaan terhadap seluruh masyarakat tanpa melihat faktor risiko. Cara ini memang bisa menemukan banyak kasus, tetapi membutuhkan biaya besar dan efisiensinya rendah.
Yang kedua adalah skrining terarah (targeted screening). Cara ini hanya dilakukan pada orang dengan risiko tinggi, misalnya penderita diabetes, hipertensi, obesitas, atau usia lanjut. Penelitian menunjukkan strategi ini jauh lebih efektif, hemat biaya, dan hasilnya lebih bermanfaat. Oleh karena itu, banyak negara kini mengutamakan skrining terarah dibandingkan massal.
Rekomendasi untuk Masyarakat Umum
Mencegah kerusakan ginjal sebenarnya dapat dilakukan dengan langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bagi kelompok berisiko, pemeriksaan rutin menjadi hal yang wajib.
Beberapa rekomendasi yang penting untuk dipraktikkan adalah:
- Pemeriksaan rutin minimal setahun sekali bagi yang berisiko, meliputi tes darah, tes urin, dan pengukuran tekanan darah.
- Mengendalikan penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi dengan minum obat teratur, menjaga pola makan, serta kontrol rutin ke dokter.
- Menjalani pola hidup sehat: mengurangi garam dan gula, olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, serta menghentikan kebiasaan merokok.
- Konsultasi ke dokter bila mengalami gejala mencurigakan seperti bengkak, sering buang air kecil di malam hari, cepat lelah, atau tekanan darah yang sulit dikendalikan.
Langkah-langkah ini tidak hanya melindungi ginjal, tetapi juga kesehatan jantung, pembuluh darah, dan organ tubuh lainnya.
Fakta Penting
Penyakit ginjal kini menjadi salah satu masalah kesehatan global terbesar. Diperkirakan 1 dari 10 orang dewasa di dunia memiliki tanda penyakit ginjal, namun lebih dari 90% tidak menyadarinya. WHO memprediksi bahwa pada tahun 2040, PGK akan menjadi penyebab kematian peringkat ke-5 di dunia.
Dengan deteksi dini, perjalanan penyakit bisa diperlambat, komplikasi dapat dicegah, dan pasien bisa menjalani hidup lebih lama dengan kualitas yang lebih baik. Karena itu, menjaga kesehatan ginjal bukan hanya tentang mencegah gagal ginjal, tetapi juga tentang menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Daftar Pustaka
- Vaidya SR, Aeddula NR. Chronic Kidney Disease. [Updated 2024 Jul 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK535404/
- Whaley-Connell A, Nistala R, Chaudhary K. The importance of early identification of chronic kidney disease. Mo Med. 2011;108(1):25-28.
- Okpechi IG, Caskey FJ, Gaipov A, et al. Early Identification of CKD-A Scoping Review of the Global Populations. Kidney Int Rep. 2022;7(6):1341-1353. Published 2022 Apr 6. doi:10.1016/j.ekir.2022.03.031
- Delrue C, Speeckaert MM. Chronic Kidney Disease: Early Detection, Mechanisms, and Therapeutic Implications. J Pers Med. 2023;13(10):1447. Published 2023 Sep 28. doi:10.3390/jpm13101447
- Korsa A, Tesfaye W, Sud K, Krass I, Castelino RL. Risk Factor-Based Screening for Early Detection of Chronic Kidney Disease in Primary Care Settings: A Systematic Review. Kidney Med. 2025;7(4):100979. Published 2025 Feb 12. doi:10.1016/j.xkme.2025.100979