
Oleh : dr. Mohamad Jasin Jachja, Sp.PD, Pembimbing : dr. Achmad Rifai, Sp.PD, K-GH
Hemodialisis atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai “cuci darah” masih sering diliputi rasa takut dan kesalahpahaman. Padahal, prosedur ini adalah salah satu terapi pengganti ginjal yang sudah membantu jutaan orang di seluruh dunia menjalani hidup yang lebih panjang dan berkualitas. Sayangnya, berbagai mitos yang beredar di masyarakat kerap membuat pasien menunda pengobatan atau mengalami kecemasan berlebihan. Berikut ini beberapa mitos yang umum beredar, beserta fakta medis yang sesungguhnya, berdasarkan rujukan dari lembaga kesehatan ginjal terpercaya.
Mitos 1: Cuci Darah Berarti Hidup Tidak Akan Lama Lagi
Mitos: Begitu seseorang mulai hemodialisis, itu pertanda akhir hidupnya sudah dekat.
Fakta: Hemodialisis adalah terapi pengganti fungsi ginjal yang menyelamatkan nyawa, bukan vonis kematian. Rata-rata harapan hidup pasien dialisis berkisar 5 hingga 10 tahun, namun banyak pasien yang hidup baik selama 20 bahkan 30 tahun dengan disiplin menjalani terapi, mengatur pola makan, dan rutin kontrol ke dokter.
Mitos 2: Sekali Cuci Darah, Seterusnya Akan Bergantung Selamanya
Mitos: Begitu memulai hemodialisis, pasien tidak akan pernah bisa lepas dari mesin dialisis.
Fakta: Pada kasus gagal ginjal akut, cuci darah bisa bersifat sementara sampai fungsi ginjal pulih kembali. Namun pada gagal ginjal kronis yang berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir, kerusakan ginjal umumnya bersifat permanen sehingga dialisis perlu dilakukan seumur hidup, kecuali pasien menjalani transplantasi ginjal yang berhasil.
Mitos 3: Hemodialisis Itu Sangat Menyakitkan
Mitos: Proses cuci darah menimbulkan rasa sakit yang hebat selama berjam-jam.
Fakta: Prosedur dialisis seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit. Rasa tidak nyaman umumnya hanya terjadi sesaat ketika jarum dimasukkan ke akses vaskular (fistula atau graft), dan kebanyakan pasien terbiasa seiring waktu. Efek samping seperti penurunan tekanan darah, mual, atau kram bisa terjadi, tetapi umumnya dapat dicegah dengan menjaga pola makan dan pembatasan cairan yang dianjurkan.
Mitos 4: Pasien Cuci Darah Tidak Boleh Minum Air Sama Sekali
Mitos: Pasien hemodialisis dilarang minum air sama sekali.
Fakta: Pasien hemodialisis memang perlu membatasi asupan cairan, tetapi bukan berarti dilarang minum sama sekali. Batasan cairan ditentukan secara individual oleh dokter berdasarkan sisa fungsi ginjal dan jumlah urine yang masih diproduksi, untuk mencegah penumpukan cairan berlebih yang membebani jantung dan paru-paru.
Mitos 5: Dialisis Terlalu Mahal untuk Pasien Biasa
Mitos: Biaya hemodialisis tidak akan terjangkau oleh pasien kebanyakan.
Fakta: Di berbagai negara, sebagian besar biaya dialisis ditanggung oleh program pemerintah maupun asuransi kesehatan. Di Indonesia, biaya hemodialisis bagi peserta BPJS Kesehatan ditanggung melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional, sehingga pasien tidak perlu menanggung biaya penuh secara mandiri.
Mitos 6: Pasien Hemodialisis Tidak Bisa Bekerja, Bepergian, atau Beraktivitas Normal
Mitos: Setelah menjalani hemodialisis, pasien tidak akan punya waktu atau tenaga untuk bekerja maupun bepergian.
Fakta: Banyak pasien dialisis tetap dapat bekerja, bersekolah, bahkan bepergian setelah terbiasa dengan jadwal terapi. Untuk perjalanan, pasien dapat mengatur jadwal cuci darah di pusat dialisis lain di kota maupun negara tujuan dengan bantuan tim medis dan pekerja sosial di fasilitas asalnya.
Mitos 7: Hemodialisis Bisa Menyembuhkan Gagal Ginjal
Mitos: Setelah menjalani hemodialisis dalam waktu tertentu, fungsi ginjal akan kembali normal.
Fakta: Hemodialisis bukan obat penyembuh, melainkan terapi yang mengambil alih sebagian fungsi ginjal untuk menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah. Pada gagal ginjal kronis stadium akhir, kerusakan ginjal bersifat permanen sehingga terapi ini tidak menggantikan seluruh fungsi ginjal dan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Mitos 8: Semua Jenis Dialisis Sama, Pasien Tidak Punya Pilihan
Mitos: Pasien gagal ginjal hanya punya satu pilihan: datang ke pusat dialisis tiga kali seminggu seumur hidup.
Fakta: Dialisis dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk hemodialisis di pusat layanan kesehatan, hemodialisis di rumah, maupun dialisis peritoneal di rumah. Pasien bersama dokter dapat memilih jenis dan lokasi dialisis yang paling sesuai dengan kondisi medis serta gaya hidup masing-masing.
Pentingnya Edukasi yang Tepat
Mitos seputar hemodialisis yang berkembang di masyarakat sering kali berakar dari rasa takut dan minimnya informasi yang akurat. Padahal, pemahaman yang keliru bisa berdampak serius, mulai dari penundaan pengobatan, kepatuhan terapi yang buruk, hingga penurunan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.
Bagi pasien yang baru didiagnosis gagal ginjal atau direkomendasikan untuk menjalani hemodialisis, langkah terbaik adalah berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis penyakit dalam atau nefrologi. Dengan informasi yang tepat, dukungan keluarga, dan kepatuhan terhadap terapi, pasien hemodialisis tetap dapat menjalani hidup yang produktif dan bermakna.
Daftar Pustaka
- National Kidney Foundation. Dialysis Myths from Facts. Tersedia di: www.kidney.org/kidney-topics/dialysis-myths-facts (diakses 2026).
- National Kidney Foundation. Dialysis: Filtering Myths from Facts. Tersedia di: www.kidney.org/news-stories/dialysis-filtering-myths-facts (diakses 2026).
- National Kidney Foundation. Hemodialysis. Tersedia di: www.kidney.org/kidney-topics/hemodialysis (diakses 2026).
- National Kidney Foundation. Dialysis – Types, Effectiveness, Side Effects. Tersedia di: www.kidney.org/kidney-topics/dialysis (diakses 2026).
- National Kidney Foundation. Hemodialysis: What You Need to Know. Berdasarkan pedoman NKF-KDOQI Clinical Practice Guidelines. Tersedia di: www.kidney.org.
- American Kidney Fund. Fact or Fiction: Home Dialysis Myths Debunked. Tersedia di: www.kidneyfund.org.
- Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI). Konsensus Dialisis. Jakarta: PERNEFRI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Nefrologi. Jakarta: Kemenkes RI.
- Indonesian Renal Registry (IRR), PERNEFRI. Laporan Tahunan Program Indonesian Renal Registry.