Menu Close

PENYAKIT GINJAL AKIBAT DIABETES MELITUS

Oleh: dr. Dicky Febrianto, Sp.PD

Ginjal merupakan organ vital yang berperan sangat penting dalam mempertahankan metabolisme tubuh manusia. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit, dan asam basa, dengan cara menyaring darah yang melewati ginjal, menyerap ulang air secara selektif, dan akhir mengeluarkan kelebihannya sebagai kemih. Ginjal juga mengeluarkan sampah metabolisme tubuh, yaitu urea, kreatinin, dan zat-zat kimia tertentu. Selain berfungsi ekskresi, ginjal juga mensekresi beberapa hormon penting, di antaranya renin untuk mengatur tekanan darah, eritropoietin untuk menstimulasi produksi sel darah merah, dan mengaktifkan vitamin D. Kegagalan ginjal dalam melaksanakan fungsi-fungsi vital ini menimbulkan keadaan yang disebut uremia, yang merupakan salah satu tanda utama dari penyakit ginjal.

Gangguan ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan disebut penyakit ginjal kronis (PGK). PGK dapat memberat menjadi gagal ginjal tahap akhir, di mana ginjal sudah tidak mampu lagi untuk mempertahankan metabolisme tubuh yang normal, sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut berupa tindakan dialisis (cuci darah) atau pencangkokan ginjal sebagai terapi pengganti ginjal. Penyebab PGK paling sering di Indonesia adalah diabetes melitus (DM), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan batu saluran kemih.

DM adalah penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia (peningkatan gula darah) yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin, atau kombinasi kedua-duanya. DM merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah utama dalam bidang kesehatan. Di Indonesia jumlah pasien DM diperkirakan akan meningkat dengan cepat, dari 8,4 juta orang pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta orang pada tahun 2030. Banyak penderita yang tidak mengetahui bahwa dirinya menderita DM, banyak pula yang tahu namun tidak berobat teratur, sehingga seringkali datang dengan disertai komplikasi yang lanjut dan berat.

Kadar gula darah yang terus-menerus tinggi pada penderita diabetes melitus akan membawa berbagai komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi adalah komplikasi pada pembuluh darah kecil maupun besar karena kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama merusakan kualitas pembuluh darah. Pembuluh kecil yang dapat mengalami kerusakan adalah pembuluh darah retina (retinopati diabetik), pembuluh darah ginjal (nefropati diabetik), dan pembuluh saraf (neuropati diabetik). PGK yang terjadi pada penderita DM dan diduga kuat diakibatkan oleh DM-nya disebut nefropati diabetik.

Nefropati diabetik adalah suatu kondisi serius di mana ginjal mengalami komplikasi yang diakibatkan oleh DM. Seiring berjalannya waktu, nefropati diabetik dapat menyebabkan rusaknya sistem penyaringan di dalam ginjal yang berpotensi mengakibatkan gangguan ginjal ringan hingga gagal ginjal. Semakin lama seseorang mengidap DM atau semakin tidak terkontrol kadar gula darahnya, maka akan semakin tinggi pula risiko mengalami gagal ginjal.

Nefropati diabetik disebabkan kerusakan pada nefron, yaitu bagian pada ginjal yang fungsinya menyaring racun dan membuang kelebihan cairan dalam tubuh. Kondisi tersebut akan membuat fungsi nefron terganggu sehingga menyebabkan protein (albumin) terbuang dalam urine, sebaliknya racun tubuh berupa urea dan kreatinin yang seharusnya diekskresi melalui ginjal malah tertahan. Selain itu, kerusakan pada nefron juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang akhirnya membuat ginjal semakin rusak.

Nefropati diabetik terkadang tidak menunjukkan gejala di tahap-tahap awal. Gangguan baru akan muncul dan terasa ketika ginjal benar-benar sudah tidak lagi berfungsi dengan optimal. Jika kerusakan terus berlanjut, biasanya akan timbul beberapa gejala, di antaranya kehilangan nafsu makan, mudah merasa lelah, mual muntah, kulit terasa gatal dan kering, lemas, sesak napas, penurunan berat badan secara drastis, dan bengkak tungkai.

Untuk mengetahui adanya gangguan ginjal pada diabetes ini, dokter mungkin akan melakukan tes darah dan urine secara berkala untuk memeriksa tanda-tanda awal dari kerusakan ginjal. Pemeriksaan fungsi ginjal yang umum dilakukan untuk mendiagnosis nefropati diabetik meliputi tes urine mikroalbuminuria, tes darah untuk blood urea nitrogen (BUN), dan tes darah untuk kreatinin serum.

Tes urine mikroalbuminuria bertujuan untuk memeriksa keberadaan albumin dalam urine. Urine yang normal tidak mengandung albumin. Itulah sebabnya, ketika ditemukan protein (albumin) di dalam urine, hal ini menandakan adanya kerusakan ginjal.

Pemeriksaan darah untuk BUN bertujuan untuk memeriksa kadar nitrogen urea di dalam urea. Nitrogen urea terbentuk sebagai hasil metabolisme protein di dalam tubuh yang normal dikeluarkan melalui ginjal. Kadar nitrogen urea yang tinggi dalam darah merupakan penanda dari gangguan ginjal.

Tes darah untuk kreatinin serum berguna untuk mengukur kadar kreatinin dalam darah. Kreatinin adalah limbah kimia hasil metabolisme otot yang digunakan selama kontraksi. Normalnya, ginjal akan mengeluarkan kreatinin dari tubuh kita melalui urine. Jika rusak, ginjal tidak dapat menyaring dan membuang kreatinin dengan optimal dari darah. Kadar kreatinin yang tinggi dalam darah bisa mengindikasikan bahwa ginjal tidak berfungsi dengan baik.

Tidak ada pengobatan tertentu untuk nefropati diabetik, namun perawatan DM yang tepat dapat memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit. Cek gula darah dan tekanan darah secara teratur, menggunakan dosis insulin yang tepat, dan minum obat seperti yang diarahkan oleh dokter dapat menjaga kadar gula darah dalam kisaran normal. Bagi pasien yang juga menderita hipertensi, dokter juga mungkin meresepkan obat-obat antihipertensi sehingga faktor risiko terjadinya PGK akan diminimalisasi.

Jika dideteksi secara dini dan ditangani lebih awal, risiko perburukan nefropati diabetik menjadi gagal ginjal tahap akhir dapat dikurangi. Sekitar 80 persen kasus nefropati diabetik dapat dicegah atau diperlambat dengan intervensi yang tepat. Deteksi dini PGK bisa dilakukan secara mudah, yaitu pemeriksaan urine untuk mengetahui ada tidaknya kebocoran protein (albumin-kreatinin urine) dan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar urea dan kreatinin. Selain itu, perburukan kondisi ginjal juga dapat diperlambat dengan mengendalikan faktor risiko, seperti pengendalian tekanan darah dan mengatur asupan makanan.

Konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan makanan instan dapat memicu hipertensi dan DM. Kelebihan berat badan juga menjadi faktor risiko utama gagal ginjal, seringkali terkait dengan DM dan hipertensi. Penggunaan obat-obat pereda nyeri atau jamu dalam jangka panjang juga memperberat beban kerja ginjal. Tidak lupa pula perlu dihindari kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, kurang minum air, dan kurang aktivitas fisik.