oleh : dr.Nor Hedayanti Sp.PD, FINASIM
Peserta Fellowship Tatalaksana Penyakit Ginjal dengan Dialysis Tahap Dasar RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Anemia adalah kekurangan darah merupakan komplikasi umum yang sering terjadi pada pasien penyakit ginjal kronis. Anemia ini terjadi karena fungsi ginjal yang menurun, sehingga tubuh tidak dapat memproduksi sel darah merah yang cukup. Disebabkan karena adanya penurunan kapasitas produksi eritopoitien di ginjal. Adapun faktor lain yang menyebabkan antara lain adanya umur eritrosit yang pendek, kekurangan zat besi dan adanya faktor infeksi ataupun adanya keradangan.

Pada penyakit gagal ginjal kronik ada yang disebut anemia renal, dimana kadar Hemoglobin (Hb) < 14 g/dl pada laki laki dan < 12 g/dl pada perempuan. Sesuai konsensus anemia (Pernefri 2011) yang sering terjadi adalah anemia defisiensi besi dimana adanya saturasi transferin yang menggambarkan ketersediaan besi di sirkulasi darah yang rendah sedangkan ferritin serum menggambarkan cadangan besi di dalam tubuh, dikatakan jika besi cukup maka kadar Saturasi Transferrin > 20 % dan Serum Ferritin > 100ng/ml.
Anemia renal dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan pasien, yang sering kali terkait dengan gejala kelelahan dan kelemahan yang persisten. Hal ini disebabkan oleh kekurangan eritrosit yang sehat dan berfungsi optimal, yang mengurangi kemampuan tubuh untuk mengangkut oksigen ke jaringan. Penurunan kapasitas pengoksigenan organ-organ penting seperti otak, jantung, dan otot dapat menyebabkan gangguan kognitif, kesulitan konsentrasi, kebingungan, dan penurunan fungsi mental. Anemia pada PGK menurunkan kualitas hidup pasien dengan membuat mereka mudah lelah, lemas, susah berkonsentrasi, mudah tertidur, mudah sakit dada saat beraktivitas apalagi saat latihan fisik, susah tidur, sering terbangun saat tidur malam, menurunkan toleransi terhadap dingin, serta membuat mereka mudah merasa kram atau kelelahan otot.
Dalam hal ini anemia dapat menyebabkan tingkat kematian semakin tinggi serta angka kenaikan untuk perawatan semakin meningkat dengan dimana terjasi penurunan kapasitas aliran darah ke seluruh jantung dan menurunnya fungsi jantung, meningkatkan kejadian pembesaran ventikel (serambi kiri jantung serta dapat menurunkan fungsi otak
Untuk mecukupi kebutuhan zat besi dapat diberikan makanan daging (sapi, domba,rusa) dan unggas (ayam, itik, bebek, burung), Hati sapi atau hati ayam, seafood (berbagai jenis ikan dan kerang), sayuran hijau terutama yang berwarna pekat (bayam, sawi hijau, brokoli) Tahu dan tempe, kacang-kacangan (kacang merah, kacang kedelai, almond, kacang polong, buncis) serta biji-bijian (kacang mete, pistachio, biji bunga matahari, biji labu, biji rami).
Bersamaan dengan konsumsi makanan tinggi zat besi, juga perlu memilih makanan atau minuman yang mengandung vitamin C, seperti jus jeruk, untuk meningkatkan penyerapan zat besi. Vitamin C ini juga terkandung dalam buah dan sayur seperti kiwi, melon, stroberi, brokoli, anggur, dan tomat. Di sisi lain, konsumsi makanan tertentu justru dapat menghambat penyerapan kalsium. Maka itu, batasi konsumsi zat besi bersama teh, kopi, makanan/minuman kaya kalsium, obat antacida, atau pun sereal gandum utuh.
Pemberian suplementasi zat besi diberikan dengan preparat besi 200 mg atau yang sering dikenal dengan tablet tambah darah sebanyak 2-3 kali sehari diberikan setelah makan, Jika di dapatkan hasil zat besi yang sangan rendah dapat diberikan terapi besi secara intravena atau di suntikan lewat pembuluh darah dengan interval 1 minggu selama 10 kali pemberian. Terkadang diperlukan transfusi darah jika di dapatkan Hb < 7 g/dl dengan atau tanpa gejala anemia, pada pasien dengan gangguan jantung yang jelas, adanya perdarahan serta pada pasien yang akan menjalani operasi. Pentingnya anemia pada penyakit ginjal kronik yang merupakan salah satu komplikasi yang dapat dicegah.
Salam sehat…